Saturday, June 5, 2010

sedekah



Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :

Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"



Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).

Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"

Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).



Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"

Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikat.



Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).



Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.



Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.


Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.



Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir.

Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat diperlukan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.



Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.



Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.



Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.

Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui," demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).



Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah."

"Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah.



Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.

Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.



Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!



Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini.

Mencungkil Hikmah dari Perbuatan Tuhan



Kita harus yakin bahawa tidak ada sesuatu yang berlaku di mayapada ini yang Tuhan tidak tahu. Tidak akan berlaku sesuatu kalau Tuhan tidak izinkan dan tidak kehendaki. Apa sahaja yang berlaku tidak terkeluar dari rencana, rancangan dan jadual Tuhan. Dia pentadbir sekelian alam. Gugurnya sehelai daun kering di hutan belantara, Tuhan tahu. Menetasnya seekor anak ikan di lautan yang dalam, Tuhan tahu. Matinya seekor hama di celah-celah rumput, Tuhan tahu. Sebutir pasir menjadi batu di perut bumi pun Tuhan tahu. Bahkan bukan setakat tahu. Dia yang berkehendakkan ianya jadi begitu.



Di samping itu, segala apa yang berlaku itu tidak berlaku dengan sia-sia. Tuhan tidak membuat sesuatu dengan sia-sia. Apa sahaja yang berlaku, ada tujuan dan hikmahnya. Perkara yang berlaku itu akan membawa kepada perkara yang lain. Akan mencetuskan kesan yang lain. Akan memberi implikasi kepada pihak yang lain. Ia sambung-menyambung, kait-berkait, dan bermata-rantai dengan benda-benda yang lain.



Tuhan itu berperanan dalam segala hal. Tidak ada perkara yang Tuhan tidak masuk campur. Dunia ini ibarat pentas. Tuhan itu pengarahnya. Kita ini pelakon-pelakonNya. Apa sahaja yang dilakonkan di pentas dunia ini adalah mengikut arahan pengarahnya. Boleh juga diibaratkan dunia ini seperti papan catur. Kita dan segala apa yang ada di dalam dunia ini ialah buah-buah catur. Tuhan itu pencaturnya. Kita sebagai buah catur, tidak akan dapat bergerak kalau kita tidak digerakkan. Kalau kita tidak digerakkan maka akan diam membatulah kita.



Oleh itu segala apa yang berlaku, kembali kepada Tuhan. Tuhanlah puncanya. Tuhanlah pencetusnya.

Mengetahui hakikat ini, maka kita harus pandai menilai dan membaca segala perbuatan Tuhan. Kita perlu sentiasa mencari hikmah di dalam segala perbuatanNya samada yang berlaku pada orang lain, yang berlaku di dalam negara kita, yang berlaku di negara lain, lebih-lebih lagilah terhadap apa yang berlaku pada diri atau kumpulan kita sendiri. Pada setiap yang berlaku itu ada berita, tanda, isyarat dan pengajaran yang dapat kita cungkil – kalau kita mahu mencungkilnya.



Apabila berlaku sesuatu, kita perlu bertanya. Mengapakah ia berlaku? Apakah sebab ia berlaku? Apa puncanya? Apa kaitannya perkara itu dengan perkara lain? Apa akan jadi seterusnya? Siapa yang terkesan dengannya? Apakah bentuk kesannya? Siapa yang untung? Siapa yang rugi? Selepas berlaku perkara itu, akan ada atau tidak perubahan. Apa yang akan berubah? Siapa yang akan berubah? Apakah kesan daripada perubahan-perubahan itu? Apakah kehendak Tuhan dalam kejadian ini? Adakah kejadian ini berasingan atau bersabit dan bersambung dengan kejadian lain? Apakah rancangan Tuhan? Apakah pengajaran yang Tuhan mahu kita ambil? Apakah sikap kita selepas ini? Apa perubahan yang perlu kita buat? Adakah ini bala? Adakah ini ujian? Adakah ini hukuman kepada kesalahan kita yang lepas? Adakah ia balasan untuk kebaikan kita yang lepas? Apakah maksudnya dan kesannya pada diri dan perjuangan kita? Dan berbagai-bagai bentuk pertanyaan lagi.



Memang kita tidak akan dapat menjawab kesemua soalan ini. Orang yang kuat akal mungkin akan dapat menjawab sebahagian daripadanya. Orang yang terang mata hati mungkin akan dapat menjawab lebih lagi. Orang yang ada firasat dan pandang tembus mungkin akan lebih faham lagi tentang apa yang berlaku. Orang yang kasyaf mungkin sudah tahu lebih awal lagi perkara ini akan berlaku dan tahu pula segala hikmah dan rahsia-Nya.



Disebabkan segala sesuatu yang berlaku itu berpunca dari Tuhan dan Dialah yang mencetuskannya, maka kalau kita cungkil hikmah dalam apa juga hal dan kejadian, maka ia akan membawa kita kembali kepada Tuhan. Kita akan dapat lihat peranan dan “tangan” Tuhan. Kita akan lebih memahami iradah dan kehendak Tuhan. Kita akan lebih tahu cara Tuhan membuat sesuatu. Kita akan faham kenapa Tuhan membuat sesuatu itu. Kita akan dapat membaca jadual dan perancangan Tuhan. Kita akan tahu ke arah mana Tuhan mendorong kita.



Bila kita faham semua ini, maka segala kejadian dan perkara yang berlaku itu jadi kecil. Nikmat jadi kecil. Ujian jadi kecil. Halangan jadi kecil. Kesusahan jadi kecil. Musuh jadi kecil. Segala-galanya akan menjadi kecil. Yang kita rasa besar ialah Tuhan; yang merancangkan perkara itu berlaku. Justeru itu kita akan jadi tenang. Kita tidak takut. Kita tidak gentar. Kita tidak risau. Kita tidak bimbang. Semuanya, termasuk diri kita sendiri, adalah di dalam genggaman dan kawalan Tuhan. Mudah sahaja kita menerima apapun yang berlaku. Kita mudah sabar, mudah redha dan mudah kembali kepada Tuhan.



Tambahan pada itu, apabila kita faham dan sedar bahawa Tuhan ada peranan dalam hidup kita dan dalam apa sahaja yang berlaku pada diri kita dan diri orang lain, maka hati kita akan mudah terhubung dengan Tuhan. Kita akan dapat merasakan Tuhan sentiasa bersama kita. Tuhan itu sentiasa wujud dan berperanan dalam hidup kita. Ini akan menimbulkan berbagai-bagai rasa dalam hati kita. Rasa hebatnya Tuhan. Rasa gagahNya, perkasaNya, pengasihNya, pemurahNya dan berbagai-bagai lagi. Berikutan itu, kita akan turut rasa bersyukur denganNya, rasa malu, takut, cinta dan berterima kasih kepadaNya.



Inilah sebenarnya kerja orang-orang Rohaniah dan orang-orang sufi. Mereka sentiasa mencari-cari hikmah di dalam segala perbuatan Tuhan. Mereka sentiasa meninjau-ninjau dan mencungkil-cungkil rahsia di sebalik segala perbuatan Tuhan. Mereka mencari Tuhan melalui hikmah dan rahsia yang terkandung di sebalik fe’el atau perbuatanNya. Dengan cara itu, tidak lekang hati-hati mereka daripada berzikir dan merasa bertuhan. Inilah sumber ketenangan dan kekuatan mereka. Inilah sumber ilmu mereka. Inilah sumber kepimpinan mereka.



Inilah kerja yang patut kita lakukan. Akal mesti bekerja. Hati juga mesti bekerja. Akal perlu berfikir dan bertafakur manakala hati perlu berzikir dan merasa-rasakan tentang segala hikmah dan rahsia di dalam perbuatan Tuhan. Ini lebih baik dari bersembahyang sunat seribu rakaat yang tidak khusyuk. Ini lebih berkesan untuk membuatkan kita rasa insaf tentang kedhaifan, kelemahan dan kekerdilan diri kita. Kita akan rasa terlalu kecil dan lemah di hadapan Tuhan. Ini akan mendorong kita mencari perlindungan dan bergantung harap dengan Tuhan.

Wednesday, June 2, 2010

Menghayati Al-Quran



Al-Quran merupakan mukjizat yang paling besar dan utama yang diturunkan oleh Allah kepada nabi kita Muhammad s. a. w. Ia merupakan petunjuk yang paling baik untuk umat manusia sehingga hari qiamat dalam mencari keredhaan Allah seterusnya mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.



Di antara kelebihan membaca serta menghayati segala isi al-Quran dapat dilihat melalui beberapa petikan hadis nabi s. a. w sebagai pedoman kepada kita semua.

1. Sabda nabi s. a. w yang bermaksud : Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar al-Quran dan mengajarnya.
- muttafaqqun 'alaihi



2. Sabda nabi s. a. w yang bermaksud : Sesiapa yang membaca satu huruf daripada kitab Allah
(al-Quran) maka baginya(pembaca) dengannya (al-Quran) pahala dan pahala digandakan sepuluh sebagaimananya. Aku tidak kata bahawa alif laam miim itu satu huruf tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim itu satu huruf.
- diriwayat oleh Tirmizi dan ia merupakan hadis hasan sohih



3. Sabda nabi s. a. w yang bermaksud : Orang yang membaca al-quran dan dia mahir dengannya bersama malaikat yang mulia dan orang yang taat. Sesiapa yang membaca al-Quran sedangkan dia tersekat-sekat padanya dan dia begitu susah atasnya maka baginya 2 pahala (pahala membaca dan pahala kesusahan).
- Sohih Bukhari dan muslim



4. Abi Umamah al-Bahili telah berkata bahawa dia mendengar sabda nabi s. a. w yang bermaksud : Kamu hendaklah membaca al-Quran maka sesungguhnya ia akan datang pada hari qiamat sebagai syafaat bagi ahli-ahlinya.
- Riwayat Muslim



5. Sabda nabi s. a. w yang bermaksud : Sesungguhnya sesiapa yang tidak terdapat pada kerongkongnya sesuatu daripada al-Quran(tidak membaca) maka ia seperti rumah yang usang.
- Riwayat Tirmizi

6. Dalam satu hadis Qudsi di mana sabda nabi s. a. w yang bermaksud : Allah telah berfirman yang bermaksud : Sesiapa yang sentiasa sibuk dengan al-Quran dan zikir mengingatiKu daripada meminta-minta kepadaKu maka Aku akan anugerahkan perkara yang lebih baik daripada Aku anugerahkan kepada mereka yang sentiasa memohon kepadaKu itu. Dan kelebihan Kalam Allah di atas segala kalam yang lain seperti lebihnya Allah di atas segala makhlukNya.
- Riwayat Tirmizi dan hadis hasan sohih



7. Sabda nabi s. a. w yang bermaksud : Tiada suatu kaum yang berhimpun di dalam rumah daripada rumah-rumah Allah (masjid) membaca kitab Allah (al-Quran) dan tadarrus antara mereka melainkan akan diturunkan ketenangan ke atas mereka, disirami ke atas mereka rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan Allah menyebut-nyebut mereka pada sesiapa di sisinya.
- Riwayat Muslim



8. Daripada Daripada 'Uqbah bin 'Amir telah berkata : Telah keluar Rasulullah s. a. w menemui kami di Suffah maka sabdanya : Siapakah di kalangan kamu yang suka keluar ke Buthan dan 'Aqiq (nama 2 tempat di Madinah) di mana dia akan membawa pulang darinya 2 ekor unta yang sihat lagi gemuk tanpa berbuat dosa dan tidak pula memutuskan tali persaudaraan ? Maka kami menjawab : Wahai Rasulullah! Kami semua menyukai perkara itu.



Sabdanya : Mengapakah seseorang daripadamu tidak keluar ke masjid untuk belajar atau membaca 2 ayat daripada kitab Allah (al-Quran) maka ia lebih baik daripada 2 ekor unta yang gemuk, tiga ekor, empat ekor di mana lebih baik baginya daripada empat dan daripada semua bilangan unta.

Sayidatina Fatimah: Penghulu Wanita Syurga (2)



Ketaatannya kepada Sayidina Ali menyebabkan Allah subhanahu wa ta`ala mengangkat darjatnya. Sayidatina Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusahkan suaminya. Dalam pada itu, kemiskinan tidak menghilang Sayidatina Fatimah untuk selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita.



Bahkan dia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelaparan. Memang cocok sekali pasangan Sayidina Ali ini kerana Sayidina Ali sendiri lantaran kemurahan hatinya sehingga digelar sebagai 'Bapa kepada janda dan anak yatim' di Madinah.



Namun, pernah suatu hari, Sayidina Fatimah telah menyebabkan Sayidina Ali tersentuh hati dengan kata-katanya. Menyedari kesilapannya, Sayidatina Fatimah segera meminta maaf berulang-ulang kali.



Apabila dilihatnya air muka suaminya tidak juga berubah, lalu dengan berlari-lari anak dia mengelilingi Sayidina Ali. Tujuh puluh kali dia 'tawaf' sambil merayu-rayu memohon dimaafkan. Melihatkan aksi Sayidatina Fatimah itu, tersenyumlah Sayidina Ali lantas memaafkan isterinya itu.



"Wahai Fatimah, kalaulah dikala itu engkau mati sedang Ali tidak memaafkanmu, nescaya aku tidak akan menyembahyangkan jenazahmu," Rasulullah sollallahu `alaihi wasallam memberi amaran kepada puterinya itu apabila perkara itu sampai ke pengetahuan baginda.



Begitu sekali kedudukan seorang suami yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta`ala sebagai pemimpin bagi seorang isteri. Betapa seorang isteri itu perlu berhati-hati dan sangat berhalus di saat berdepan dengan suami. Apa yang dilakukan Sayidina Fatimah itu bukanlah disengajakan. Apatah lagi, bukan juga dia merungut-rungut, marah-marah, meninggi suara, bermasam muka, merajuk atau lain-lain karenah yang menyusahkan Sayidina Ali karamallahu wajha. Pun Rasulullah sollallahu `alaihi wasallam berkata begitu terhadapnya.



Semasa perang Uhud, Sayidatina Fatimah telah turut sama merawat luka Rasulullah. Dia juga turut bersama Rasulullah semasa peristiwa penawanan Kota Makkah dan ketika ayahandanya mengerjakan 'Haji Wida' pada akhir tahun 11 Hijrah. Dalam perjalanan haji terakhir ini Rasulullah sollallahu `alaihi wasallam telah jatuh sakit. Sayidatina Fatimah tetap di sisi ayahandanya. Ketika itu Rasulullah membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah radhiAllahu `anha yang membuatkannya menangis, kemudian Nabi sollallahu `alaihi wasallam membisikkan sesuatu lagi yang membuatkannya tersenyum.



Dia menangis kerana ayahandanya telah membisikkan kepadanya berita kematian baginda. Namun, sewaktu ayahandanya menyatakan bahawa dialah orang pertama yang akan berkumpul dengan baginda di alam baqa', gembiralah hatinya. Sayidatina Fatimah meninggal dunia enam bulan setelah kewafatan Nabi sollallahu `alaihi wasallam, dalam usia 28 tahun dan dimakamkan di Perkuburan Baqi', Madinah.



Begitu sekali wanita yang utama, agung dan namanya harum tercatat dalam al-Quran, disusah-susahkan hidupnya oleh Allah subhanahu wa ta`ala. Sengaja dibuat begitu oleh Allah kerana Dia tahu bahawa dengan kesusahan itu, hamba-Nya akan lebih hampir kepada-Nya. Begitulah juga dengan kehidupan wanita-wanita agung yang lain. Mereka tidak sempat berlaku sombong serta membangga diri atau bersenang-senang.



Sebaliknya, dengan kesusahan-kesusahan itulah mereka dididik oleh Allah untuk sentiasa merasa sabar, redha, takut dengan dosa, tawadhuk (merendah diri), tawakkal dan lain-lain. Ujian-ujian itulah yang sangat mendidik mereka agar bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta`ala. Justeru, wanita yang berjaya di dunia dan di akhirat adalah wanita yang hatinya dekat dengan Allah, merasa terhibur dalam melakukan ketaatan terhadap-Nya, dan amat bersungguh-sungguh menjauhi larangan-Nya, biarpun diri mereka menderita.

dajjal



Dari Abi Umamah Al-Bahiliy, beliau berkata: “Rasululah s.a.w telah berkhutbah di hadapan kami. Dalam khutbahnya itu Baginda banyak menyentuh masalah Dajjal"

Baginda telah bersabda: “Sesungguhnya tidak ada fitnah (kerosakan) di muka bumi yang paling hebat selain daripada fitnah yang dibawa oleh Dajjal. Setiap Nabi yang diutus oleh Allah SWT ada mengingatkan kaumnya tentang Dajjal. Aku adalah nabi yang terakhir sedangkan kamu adalah umat yang terakhir Dajjal itu tidak mustahil datang pada generasi (angkatan) kamu. Seandainya dia datang sedangkan aku masih ada di tengah-tengah kamu, maka aku adalah sebagai pembela bagi setiap mukmin. Kalau dia datang sesudah kematianku, maka setiap orang menjaga dirinya.Dan sebenarnya Allah SWT akan menjaga orang-orang mukmin.



“Dajjal itu akan datang nanti dari satu tempat antara Syam dan Irak. Dan mempengaruhi manusia dengan begitu cepat sekali. Wahai hamba Allah, wahai manusia, tetaplah kamu. Di sini akan saya terangkan kepada kamu ciri-ciri Dajjal, yang belum diterangkan oleh nabi-nabi sebelumku kepada umatnya.?” Pada mulanya nanti Dajjal itu mengaku dirinya sebagai nabi. Ingatlah, tidak ada lagi nabi sesudah aku. Setelah itu nanti dia mengaku sebagai Tuhan. Ingatlah bahawa Tuhan yang benar tidak mungkin kamu lihat sebelum kamu mati. Dajjal itu cacat matanya sedangkan Allah SWT tidak cacat, bahkan tidak sama dengan baharu. Dan juga di antara dua mata Dajjal itu tertulis kafir
, yang dapat dibaca oleh setiap mukmin yang pandai membaca atau buta huruf.



“Di antara fitnah Dajjal itu juga dia membawa syurga dan neraka. Nerakanya itu sebenarnya syurganya sedangkan syurganya itu neraka, yakni panas. Sesiapa di antara kamu yang disiksanya dengan nerakanya, hendaklah dia meminta pertolongan kepada Allah dan hendaklah dia membaca pangkal surah Al-Kahfi, maka nerakanya itu akan sejuk sebagaimana api yang membakar Nabi Ibrahim itu menjadi sejuk.

“Di antara tipu dayanya itu juga dia berkata kepada orang Arab: "Seandainya aku sanggup menghidupkan ayah atau ibumu yang sudah lama meninggal dunia itu, apakah engkau mengaku aku sebagai Tuhanmu?” Orang Arab itu akan berkata: “Tentu.” Maka syaitan pun datang menyamar seperti ayah atau ibunya. Rupanya sama, sifat-sifatnya sama dan suaranya pun sama. Ibu bapanya berkata kepadanya: “Wahai anakku, ikutilah dia, sesungguhnya dialah Tuhanmu.”


“Di antara tipu dayanya juga dia tipu seseorang, yakni dia bunuh dan dia belah dua. Setelah itu dia katakan kepada orang ramai: “Lihatlah apa yang akan kulakukan terhadap hambaku ini, sekarang akan ku hidupkan dia semula. Dengan izin Allah orang mati tadi hidup semula. Kemudian Laknatullah Alaih itu bertanya: “Siapa Tuhanmu?” Orang yang dia bunuh itu, yang kebetulan orang beriman, menjawab: “Tuhanku adalah Allah, sedangkan engkau adalah musuh Allah.” Orang itu bererti lulus dalam ujian Allah dan dia termasuk orang yang paling tinggi darjatnya di syurga.”

Kata Rasulullah s.a.w lagi: “Di antara tipu dayanya juga dia suruh langit supaya menurunkan hujan tiba-tiba hujan pun turun. Dia suruh bumi supaya mengeluarkan tumbuh-tumbuhannya tiba-tiba tumbuh. Dan termasuk ujian yang paling berat bagi manusia, Dajjal itu datang ke perkampungan orang-orang baik dan mereka tidak mengakunya sebagai Tuhan, maka disebabkan yang demikian itu tanam-tanaman dan ternakan mereka tidak menjadi.



“Dajjal itu datang ke tempat orang-orang yang percaya kepadanya dan penduduk kampung itu mengakunya sebagai Tuhan. Disebabkan yang demikian hujan turun di tempat mereka dan tanam-tanaman mereka pun menjadi. “Tidak ada kampung atau daerah di dunia ini yang tidak didatangi Dajjal kecuali Makkah dan Madinah. Kedua-dua kota itu tidak dapat ditembusi oleh Dajjal kerana dikawal oleh Malaikat. Dia hanya berani menginjak pinggiran Makkah dan Madinah. Namun demikian ketika Dajjal datang ke pergunungan di luar kota Madinah, kota Madinah bergoncang seperti gempa bumi.. Ketika itu orang-orang munafik kepanasan seperti cacing dan tidak tahan lagi tinggal di Madinah. Mereka keluar dan pergi bergabung dengan orang-orang yang sudah menjadi pengikut Dajjal. Inilah yang dikatakan hari pembersihan kota Madinah.



Dalam hadis yang lain, “di antara fitnah atau tipu daya yang dibawanya itu,Dajjal itu lalu di satu tempat kemudian mereka mendustakannya (tidak beriman kepadanya), maka disebabkan yang demikian itu tanam-tanaman mereka tidak menjadi dan hujan pun tidak turun di daerah mereka. Kemudian dia lalu di satu tempat mengajak mereka supaya beriman kepadanya. Mereka pun beriman kepadanya. Maka disebabkan yang demikian itu Dajjal menyuruh langit supaya menurunkan hujannya dan menyuruh bumi supaya menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya. Maka mereka mudah mendapatkan air dan tanam-tanaman mereka subur.”

Dari Anas bin Malik, katanya Rasulullah s.a.w bersabda: “Menjelang turunnya Dajjal ada tahun-tahun tipu daya, iaitu tahun orang-orang pendusta dipercayai orang dan orang jujur tidak dipercayai. Orang yang tidak amanah dipercayai dan orang amanah tidak dipercayai.”



Dari Jabir bin Abdullah, katanya Rasulullah s.a.w ada bersabda: “Bumi yang paling baik adalah Madinah. Pada waktu datangnya Dajjal nanti ia dikawal oleh malaikat. Dajjal tidak sanggup memasuki Madinah. Pada waktu datangnya Dajjal (di luar Madinah), kota Madinah bergegar tiga kali. Orang-orang munafik yang ada di Madinah (lelaki atau perempuan) bagaikan cacing kepanasan kemudian mereka keluar meninggalkan Madinah. Kaum wanita adalah yang paling banyak lari ketika itu. Itulah yang dikatakan hari pembersihan. Madinah membersihkan kotorannya seperti tukang besi membersihkan karat-karat besi.”



Diriwayatkan oleh Ahmad, hadis yang diterima dari Aisyah r.a. mengatakan:” Pernah satu hari Rasulullah s.a.w masuk ke rumahku ketika aku sedang menangis. Melihat saya menangis beliau bertanya: “Mengapa menangis?” Saya menjawab: “Ya Rasulullah, engkau telah menceritakan Dajjal, maka saya takut mendengarnya. ” Rasulullah s.a.w berkata: “Seandainya Dajjal datang pada waktu aku masih hidup, maka aku akan menjaga kamu dari gangguannya. Kalau dia datang setelah kematianku, maka Tuhan kamu tidak buta dan cacat.”

Dari Jabir bin Abdullah, katanya Rasulullah s.a.w bersabda: “Dajjal muncul pada waktu orang tidak berpegang kepada agama dan jahil tentang agama. Pada zaman Dajjal ada empat puluh hari, yang mana satu hari terasa bagaikan setahun, ada satu hari yang terasa bagaikan sebulan, ada satu hari yang terasa satu minggu, kemudian hari-hari berikutnya seperti hari biasa.”



Ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tentang hari yang terasa satu tahun itu, apakah boleh kami solat lima waktu juga?” Rasulullah s.a.w menjawab: “Ukurlah berapa jarak solat yang lima waktu itu.” Menurut riwayat Dajjal itu nanti akan berkata: “Akulah Tuhan sekalian alam, dan matahari ini berjalan dengan izinku. Apakah kamu bermaksud menahannya?” Katanya sambil ditahannya matahari itu, sehingga satu hari lamanya menjadi satu minggu atau satu bulan.

Setelah dia tunjukkan kehebatannya menahan matahari itu, dia berkata kepada manusia:”Sekarang apakah kamu ingin supaya matahari itu berjalan?” Mereka semua menjawab:”Ya, kami ingin.” Maka dia tunjukkan lagi kehebatannya dengan menjadikan satu hari begitu cepat berjalan.



Menurut riwayat Muslim, Rasulullah s.a.w bersabda: “Akan keluarlah Dajjal kepada umatku dan dia akan hidup di tengah-tengah mereka selama empat puluh. Saya sendiri pun tidak pasti apakah empat puluh hari, empat puluh bulan atau empat puluh tahun. Kemudian Allah SWT mengutus Isa bin Maryam yang rupanya seolah-olah Urwah bin Mas’ud dan kemudian membunuh Dajjal itu.”