Saturday, May 29, 2010

Hidup Dengan Penuh Cubaan



Terdapat riwayat yang shahih bahawa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda; ertinya :
"Sesungguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan Mufattan ( penuh cubaan ), Tawwab ( senang bertaubat ), dan Nassaa' ( suka lupa ), ( tetapi ) apabila diingatkan ia segera ingat. " Silsilah Hadith Shahih No. 2276



Hadith ini merupakan hadith yang menjelaskan sifat-sifat orang mukmin, sifat-sifat yang senantiasa melekat dan menyatu dengan diri mereka, tiada pernah lepas hingga seolah-olah pakaian yang selalu menempel pada tubuh mereka dan tidak pernah terpisah dari mereka.

Mufattan
Ertinya : Orang yang diuji ( diberi cubaan ) dan banyak ditimpa fitnah.
Maksudnya : ( orang mukmin ) adalah orang yang waktu demi waktu selalu diuji oleh Allah dengan bala ( bencana dan dosa-dosa ). Faid-Qadir 5/491



Dalam perkara ini,cubaan itu akan meningkatkan keimanannya, memperkuat keyakinannya dan akan mendorong semangatnya untuk terus menerus berhubungan dengan Allah Subhanahu Wa Taala, sebab dengan kelemahan dirinya, ia menjadi tahu betapa Maha Kuat dan Maha Perkasanya Allah, Rabbnya.

Menurut sebuah riwayat dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim, sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda;

ertinya :
"Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang-kadang meluruskannya kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak bergerak oleh terpaan apapun hingga ( ketika ) tumbang, tumbangnya sekaligus. " HR Bukhari & Muslim



Ya, demikianlah sifat seorang mukmin dengan keimanannya yang benar, dengan tauhidnya yang bersih dan dengan sikap iltizam ( commitment ) nya yang sungguh-sungguh.

Tawaab Nasiyy
Ertinya : Orang yang bertaubat kemudian lupa, kemudian ingat, kemudian bertaubat. Faid-Al Qadir 5/491.



Seorang mukmin dengan taubatnya, bererti telah mewujudkan makna salah satu sifat Allah Subhanahu Wa Taala, iaitu sifat yang terkandung dalam namaNya :
Al-Ghaffar ( Zat yang Maha Pengampun ). Allah Subhanahu Wa Taala berfirman; ertinya :
"Dan sesungguhnya Aku yang amat memberi ampun kepada orang-orang yang bertaubat serta beriman dan beramal soleh, kemudian dia tetap teguh menurut petunjuk yang diberikan kepadanya. " Q.S Taha : 82



Apabila Diingatkan, Ia Segera Ingat

Ertinya : Bila diingatkan tentang ketaatan, ia segera bergegas melompat kepadanya, bila diingatkan tentang kemaksiatan, ia segera bertaubat daripadanya, bila diingatkan tentang kebenaran, ia segera melaksanakannya, dan bila diingatkan tentang kesalahan ia segera menjauhi dan meninggalkannya. Ia tidak sombong, tidak besar kepala, tidak bongkak dan tidak tinggi hati, tetapi ia rendah hati kepada saudara-saudaranya, lemah lembut kepada sahabat-sahabatnya dan ramah tamah kepada teman-temannya, sebab ia tahu inilah jalan Ahlul Haq ( pengikut kebenaran ) dan jalannya kaum mukminin yang sholihin.



Terhadap dirinya sendiri ia berbatin jujur serta berpenampilan luhur, sedangkan terhadap orang lain ia berperasaan lembut dan berakhlak mulia, bersuri tauladan kepada insan tauladan paling sempurna iaitu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, yang telah diberi wasiat oleh Rabbnya dengan firmanNya yang ertinya :
"Maka dengan sebab rahmat ( yang melimpah-limpah ) dari Allah ( kepadamu wahai Muhammad ), engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka ( sahabat-sahabat dan pengikutmu ), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu. Oleh itu maafkanlah mereka ( mengenai kesalahan yang mereka lakukan terhadapmu ) dan pohonkanlah ampun bagi mereka dan juga bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan ( peperangan dan hal-hal keduniaan ) itu. Kemudian apabila engkau telah berazam ( sesudah bermesyuarat, untuk membuat sesuatu ) maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengasihi orang-orang yang bertawakal kepadaNya. " Q.S Aali Imran : 159



Inilah sifat seorang mukmin. Ini pula jalan hidup serta manhaj perilakunya.

Wanita sebagai Sumber Sakinah



Dikisahkan pada suatu hari seorang sahabat mendatangi Rasulullah dan berkata: “Ya Rasulullah, aku memiliki seorang isteri yang selalu menyambutku ketika aku datang dan mengantarku saat aku keluar rumah. Jika ia melihatku termenung ia selalu menyapaku dan mengatakan: Ada apa denganmu? Apa yang kau risaukan? Jika rizkimu yang kau risaukan, ketahuilah bahwa rezekimu ada di tangan Allah. Tapi jika yang kau risaukan adalah urusan akhirat, semoga Allah menambah rasa risaumu.”



Setelah mendengar cerita sahabatnya Rasulullah saw bersabda:
“Sampaikan kabar gembira kepadanya tentang surga yang sedang menunggunya! Dan katakan padanya, bahwa ia termasuk salah satu pekerja Allah. Allah swt menuliskan baginya setiap hari pahala tujuh puluh syuhada’.” (Makarim Al-Akhlaq: 200).

Sakinah merupakan pondasi kehidupan manusia yang diliputi suasana perasaan yang sejuk dan damai. Isteri ibarat tempat suami bernaung, beristirahat dan mencari hiburan. Setelah terasa letih dan penat dari perjuangannya seharian demi kepentingan keluarga dan umat, suami berlabuh kepada isterinya. Sang istri menerimanya dengan penuh rasa suka, wajah ceria dan senyum. Ketika itulah, sang suami mendapatkan darinya telinga yang mendengar dengan baik, hati yang belas kasih dan tutur kata yang lembut.



Rasulullah saw. bersabda, “Dunia itu adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangannya adalah wanita shalihah.”

Dengan demikian, profil wanita shalihah ditegaskan melalui tujuan ia diciptakan, yaitu menjadi ketentraman bagi laki-laki dengan semua makna yang tercakup dalam kata “Ketentraman (sakinah) itu. Ketentraman dapat terwujud jika wanita memiliki beberapa kriteria berdasarkan sabda Rasulullah saw.: Jika dilihat suami selalu menyenangkan, jika diperintah suaminya dia taat, jika suaminya sedang pergi, ia mampu menjaga harta dan kehormatannya, tidak akan pernah memasukkan ke dalam rumahnya lelaki yang bukan mahramnya.



Isteri sholihah harus berusaha menjaga penampilannya agar selalu kelihatan segar dan menarik dihadapan suaminya, termasuk roman mukanya, tutur katanya, menunjukkan sikap penuh kehangatan, perhatian dan siap mentaati dan melayani suami dalam kebaikan.

Isteri sholihah memenuhi tugas utamanya sebagai pemelihara rumah (robbatul bait) dan ibu bagi anak-anak suaminya. Setiap hari dia harus memelihara kebersihan, kerapihan dan kenyamanan rumahnya, agar suami dan anak-anaknya betah di rumah. Dia pun menjadi pendidik pertama dan utama dari anak-anaknya.

Isteri sholihah harus selalu menjaga kehormatan dirinya di depan lelaki asing, yang bukan mahramnya. Dia selalu menutup auratnya, menundukkan pandangannya, tidak berkhalwat, dan hanya berinteraksi selama ada keperluan yang dibolehkan.



Tugas Pria Menjaga Sumber Sakinah

Para suami diingatkan oleh cucu Rasulullah saw., yakni Imam Ali Zainal Abidin r.a. yang berkata:
“Adapun hak isteri, ketahuilah sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjadikan untukmu dia sebagai sumber sakinah dan kasih sayang. Maka, hendaknya kau sadari hal itu sebagai nikmat dari Allah yang harus kau muliakan dan bersikap lembut padanya, walaupun hakmu atas lebih wajib baginya. Karena ia adalah keluargamu. Engkau wajib menyayanginya, memberi makan, memberi pakaian, dan memaafkan kesalahannya.”



Dalam menjaga sumber sakinah, suami perlu sabar akan kekurangan istrinya. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang bersabar atas perlakuan buruk isterinya, Allah akan memberinya pahala seperti yang Dia berikan kepada Nabi Ayyub (a.s) yang tabah dan sabar menghadapi ujian-ujian Allah yang berat. (Makarim Al-Akhlaq:213)



Umar bin Khatthab r.a. mengingatkan kepada para suami agar memberikan apresiasi kepada isterinya. Umar r.a. berkata:
“Isteriku, benteng bagiku dari api neraka.Isteriku, orang yang paling setia mendampingiku di saat senang dan susah. Isteriku yang membantu, menjaga, memelihara rumah dan hartaku. Isteriku adalah ibu dari anak-anakku. Saya tahu betul, betapa berat tugas ibu, mengandung, melahirkan, menyusukan, dan menjaga anak-anak. Selain itu, isteriku tanpa mengenal lelah, setiap hari mencuci pakaianku, dan memasakkan makanan untukku, dan anak-anakku. Karena itu, aku selalu memaafkannya. Mungkin banyak hak-haknya yang belum sempat aku penuhi.”



Allah SWT mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa:
“….Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” ( QS. Al-Furqon [25]: 74 ).

Mudah-mudahan dengan kesungguhan dalam menjaga istri sebagai sumber sakinah, maka para suami akan mendapatkan sakinah, mawaddah, war rahmah itu terus-menerus sebagai nikmat dari Allah SWT. Amin!.

Gangguan Syaitan Ketika Menghadapi Sakaratul Maut



Iblis dan Syaitan akan sentiasa mengganggu manusia, bermula dengan memperdayakan manusia dari terjadinya dengan setitik mani hinggalah ke akhir hayat mereka, dan yang paling dahsyat ialah sewaktu akhir hayat iaitu ketika sakaratul maut. Syaitan mengganggu manusia sewaktu sakaratul maut disusun menjadi 7 golongan dan rombongan.
Hadith Rasulullah s.a.w.. menerangkan:

Yang bermaksud: "Ya Allah aku berlindung dengan Engkau daripada perdayaan Syaitan di waktu maut."



Rombongan 1

Akan datang Syaitan dengan banyaknya dengan berbagai rupa yang pelik dan aneh seperti emas, perak dan lain-lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lazat-lazat. Maka disebabkan orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak dan loba kepada barang-barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya barangan Syaitan itu, di waktu itu nyawanya putus dari tubuh. Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah s.w.t. inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.



Rombongan 2

Akan datang Syaitan kepada orang yang didalam sakaratul maut itu merupakan diri sebagai rupa binatang yang di takuti seperti, Harimau, Singa, Ular dan Kala yang berbisa. Maka Apabila yang sedang didalam sakaratul maut itu memandangnya saja kepada binatang itu, maka dia pun meraung dan melompat sekuat hati. Maka seketika itu juga akan putuslah nyawa itu dari badannya, maka matinya itu disebut sebagai mati lalai dan mati dalam keadaan lupa kepada Allah s.w.t., matinya itu sebagai Fasik dan Munafik dan ke nerakalah tempatnya.



Rombongan 3

Akan datang Syaitan mengacau dan memperdayakan orang yang di dalam sakaratul maut itu dengan merupakan dirinya kepada binatang yang menjadi minat kepada orang yang hendak mati itu, kalau orang yang hendak mati itu berminat kepada burung, maka dirupai dengan burung, dan jika dia minat dengan Kuda lumba untuk berjudi, maka dirupakan dengan Kuda lumba (judi).

Jika dia minat dengan dengan ayam sabung, maka dirupakan dengan ayam sabung yang cantik. Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba-raba kepada binatang kesayangan itu dan waktu tengah meraba-raba itu dia pun mati, maka matinya itu di dalam golongan yang lalai dan lupa kepada Allah s.w.t.. Matinya itu mati Fasik dan Munafik, maka nerakalah tempatnya.



Rombongan 4

Akan datang Syaitan merupakan dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati, seperti musuhnya ketika hidupnya dahulu maka orang yang di dalam sakaratul maut itu akan menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu. Maka sewaktu itulah maut pun datang dan matilah ia sebagai mati Fasik dan Munafik, dan nerakalah tempatnya



Rombongan 5

Akan datang Syaitan merupakan dirinya dengan rupa sanak-saudara yang hendak mati itu, seperi ayah ibunya dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang di dalam sakaratul maut itu sangat mengharapkan minuman dan makanan lalu dia pun menghulurkan tangannya untuk mengambil makanan dan minuman yang dibawa oleh si ayah dan si ibu yang dirupai oleh Syaitan, berkata dengan rayu-merayu "Wahai anakku inilah sahaja makanan dan bekalan yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah bahawa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak lagi bercerai dan marilah bersama kami masuk ke dalam syurga."

Maka dia pun sudi mengikut pelawaan itu dengan tanpa berfikir lagi, ketika itu waktu matinya pun sampai maka matilah dia di dalam keadaan kafir, kekal ia di dalam neraka dan terhapuslah semua amal kebajikan semasa hidupnya.



Rombongan 6

Akan datanglah Syaitan merupakan dirinya sebagai ulamak-ulamak yang membawa banyak kitab-kitab, lalu berkata ia: "Wahai muridku, lamalah sudah kami menunggu akan dikau, berbagai ceruk telah kami pergi, rupanya kamu sedang sakit di sini, oleh itu kami bawakan kepada kamu doktor dan bomoh bersama dengan ubat untukmu." Lalu diminumnya ubat, itu maka hilanglah rasa penyakit itu, kemudian penyakit itu datang kembali. Lalu datanglah pula Syaitan yang menyerupai ulamak dengan berkata: "Kali ini kami datang kepadamu untuk memberi nasihat agar kamu mati didalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah?"

Berkata orang yang sedang dalam sakaratul maut: "Aku tidak tahu."



Berkata ulamak Syaitan: "Ketahuilah, aku ini adalah seorang ulamak yang tinggi dan hebat, baru sahaja kembali dari alam ghaib dan telah mendapat syurga yang tinggi. Cubalah kamu lihat syurga yang telah disediakan untukmu, kalau kamu hendak mengetahui Zat Allah s.w.t. hendaklah kamu patuh kepada kami."

Ketika itu orang yang dalam sakaratul maut itu pun memandang ke kanan dan ke kiri, dan dilihatnya sanak-saudaranya semuanya berada di dalam kesenangan syurga, (syurga palsu yang dibentangkan oleh Syaitan bagi tujuan mengacau orang yang sedang dalam sakaratul maut). Kemudian orang yang sedang dalam sakaratul maut itu bertanya kepada ulamak palsu:

"Bagaimanakah Zat Allah?" Syaitan merasa gembira apabila jeratnya mengena .



Lalu berkata ulamak palsu: "Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan dibuka kepadamu. "

Apabila tirai dibuka selapis demi selapis tirai yang berwarna warni itu, maka orang yang dalam sakaratul maut itu pun dapat melihat satu benda yang sangat besar, seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi.

Berkata Syaitan: "Itulah dia Zat Allah yang patut kita sembah."



Berkata orang yang dalam sakaratul maut: "Wahai guruku, bukankah ini benda yang benar-benar besar, tetapi benda ini mempunyai jihat enam, iaitu benda besar ini ada di kirinya dan kanannya, mempunyai atas dan bawahnya, mempunyai depan dan belakangnya. Sedangkan Zat Allah tidak menyerupai makhluk, sempurna Maha Suci Dia dari sebarang sifat kekurangan. Tapi sekarang ini lain pula keadaannya dari yang di ketahui dahulu. Tapi sekarang yang patut aku sembah ialah benda yang besar ini."

Dalam keraguan itu maka Malaikat Maut pun datang dan terus mencabut nyawanya, maka matilah orang itu di dalam keadaan dikatakan kafir dan kekal di dalam neraka dan terhapuslah segala amalan baik selama hidupnya di dunia ini.



Rombongan 7

Rombongan Syaitan yang ketujuh ini Syaitan terdiri dari 72 barisan sebab menjadi 72 barisan ialah kerana dia menepati Iktikad Muhammad s.a.w. bahawa umat Muhammad akan terbahagi kepada 73 puak (barisan). Satu puak sahaja yang benar (ahli sunnah waljamaah) 72 lagi masuk ke neraka kerana sesat.

Ketahuilah bahawa Syaitan itu akan mengacau dan mengganggu anak Adam dengan 72 macam yang setiap satu berlain di dalam waktu manusia sakaratul maut. Oleh itu hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hampir meninggal dunia akan talkin Laa Ilaaha Illallah untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan Syaitan dan Iblis yang akan berusaha bersungguh-sungguh mengacau orang yang sedang dalam sakaratul maut.



Bersesuaian dengan sebuah hadith yang bermaksud: "Ajarkan oleh kamu (orang yang masih hidup) kepada orang yang hampir mati itu: Laa Ilaaha Illallah."

Friday, May 28, 2010

tidur



Allah subhanahu wa ta`ala berfirman yang membawa maksud:

"Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirehat." (surah an-Naba`, ayat 9)

Tidur sesuatu yang menakjubkan. Ianya sebahagian dari kematian. Dengan tidur seluruh anggota badan akan terdiam, semua gerakan akan tenang. Tidur merupakan alat merehatkan jiwa, merehatkan akal, menyegarkan perut dan menyegarkan badan. Tidur adalah permainan yang menyenangkan, menyegarkan kesedihan, membebaskan rasa letih dan penat selepas bekerja seharian. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman yang membawa maksud:

(Ingatlah) ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripadaNya.
(surah al-Anfaal, ayat 11)



Sesungguhnya makhluk itu lemah, maka berehatlah dengan tidur. Itulah hikmah diciptakan malam sebagai waktu tidurmu sedangkan Allah tidak akan pernah tidur kerana Dia adalah sang Pencipta yang tidak tidur dan tidak pula mengantuk, sepertimana dalam firman Allah subhanahu wa ta`ala:

"Allah tidak mengantuk dan tidak tidur." (surah al-Baqarah, ayat 255)



Allah subhanahu wa ta`ala tidak pernah tidur sebab Allah adalah Maha Hidup dan Maha Bangun, Allah kekal dan abadi. Dan kita tidur sebab kita berasal dari tiada dan akan kembali kepada kebinasaan. Kita keluar dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Kita tidur agar kita dapat mengingat mati dan sesuatu yang terjadi setelah kematian iaitu alam kubur dan apa-apa yang ada di dalamnya. Kita tidur untuk melupakan dendam, dengki, kepedihan, dan kepenatan. Kita tidur agar kita dapat bersiap sedia menghadapi hari dan umur baru dengan penuh kesegaran. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman yang bermaksud:

"Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari." (surah al-An`aam, ayat 60)



Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah adalah tidur kamu pada waktu malam, pada saat itu Allah menggenggam arwah kamu dan menghentikan segala pergerakan kamu serta menghilangkan perasaan dan fikiran kamu, sehingga kami menyedari bahawa kamu hanyalah makhluk yang akan binasa. Hanya Allah sahaja Yang Maha Esa, Maha Pencipta, Maha Abadi, Maha Penjaga dan Maha Kuasa. Allah ta`ala berfirman yang bermaksud:

"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (surah az-Zumar, ayat 42)

Thursday, May 27, 2010

Perihal Malaikat Izrail



Malaikat Izrail adalah salah satu di antara empat pembesar malaikat yang empat selain malaikat Jibrail, Mikail dan Israfil Dikenali malaikat maut kerana ia ditugaskan untuk mencabut nyawa makhluk-makhluk Allah SWT Malaikat Izrail diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan yang serupa dengan malaikat Mikail baik wajahnya, saiznya, kekuatannya, lisannya dan sayapnya. Semuanya tidak kurang dan tidak lebih.



Dari kepala hingga kedua telapak kakinya berbulu Za'faran dan di setiap bulu ada satu juta muka dan setiap satu juta muka mempunyai satu juta mata dan satu juta mulut. Setiap mulut ada satu juta lidah, setiap lidah boleh berbicara satu juta bahasa. Jika seluruh air di lautan dan sungai di dunia disiramkan di atas kepalanya, nescaya tidak setitikpun akan jatuh melimpah.

Disebutkan, ketika Allah SWT mencipta Al-Maut dan menyerahkan kepada malaikat Izrail, maka berkata malaikat Izrail: "wahai Tuhanku, apakah Al-Maut itu?". Maka Allah SWT menyingkap rahsia Al-Maut itu dan memerintah seluruh malaikat menyaksikannya. Setelah seluruh malaikat menyaksikannya Al-Maut itu, maka tersungkurlah semuanya dalam keadaan pengsan selama seribu tahun.



Setelah para malaikat sedar kembali, bertanyalah mereka: "Ya Tuhan kami, adakah makhluk yang lebih besar dari ini?" Kemudian Allah SWT berfirman: "Akulah yang menciptakannya dan Akulah yang lebih Agung daripadanya. Seluruh makhluk akan merasakan Al-Maut itu".

Kemudian Allah SWT berfirman: "Hai Izrail, ambillah Al-Maut itu, dan Aku telah menyerahkannya kepada mu". Maka malaikat Izrail pun berkata: "Ya Tuhanku, apa dayaku untuk mengambil nya sedangkan ia lebih agung dari ku". Kemudian Allah SWT memberikan kekuatan, sehinggalah Al-Maut itu menetap di tangannya.



Setelah itu Al-Maut berkata: "Ya Tuhanku, izinkanlah aku untuk berseru di dalam langit sekali sahaja". Maka, setelah diizinkan, berserulah ia dengan suara yang amat keras: "Aku ini adalah Al-Maut, tugasku sebagai pemisah orang yang saling mencintai. Aku adalah Al-Maut, tugasku memisahkan antara anak dan ibunya. Aku adalah Al-Maut, tugasku memisahkan saudara lelaki dan wanita. Aku adalah Al-Maut, tugasku menghancurkan bangunan rumah dan gedung-gedung, Aku adalah Al-Maut, tugasku meramaikan kuburan. Aku adalah Al-Maut, tugasku mencari dan mendatangi kamu semuanya, walaupun kamu berada dalam lapis benteng yang amat kuat. Dan tiada satupun makhluk yang tidak merasakan kepedihanku".



Malaikat Izrail diberi kemampuan yang luar biasa oleh Allah SWT sehingga arah barat dan timur dapat dijangkau dengan mudah olehnya sebagaimana keadaan seseorang yang sedang menghadapi sebuah meja makan yang dipenuhi dengan pelbagai macam makanan yang siap untuk dimakan. Ia juga boleh membolak-balikkan dunia sebagaimana kemampuan seseorang boleh membolak-balikkan wang syilling.

Sewaktu malaikat Izrail menjalankan tugasnya mencabut nyawa makhluk-makhluk dunia, ianya akan turun ke dunia bersama-sama dengan dua kumpulan malaikat iaitu malaikat Rahmat dan malaikat Azab

Kisah Perhimpunan Agung di Hadiratul Quddus



Diriwayatkan setelah semua manusia yang layak memasuki syurga sudah memasuki syurga, pada satu hari yang ditentukan, Allah SWT memerintahkan malaikat Jibrail membawa ahli syurga ke satu perkampungan yang bernama Hadiratul Quddus. Hadiratul Quddus terletak di dalam syurga yang bernama Syurga Khuldi, iaitu suatu alam dan tempat yang cuma diketahui kedudukannya oleh Allah SWT sahaja.

Apabila malaikat Jibrail dan rombongan ahli syurga yang ramai itu sampai di pintu masuk Syurga Khuldi, maka muncullah malaikat yang menjadi pengawal syurga itu, lalu bertanya: "Apakah bicara dan kehendak tuan bersama rombongan manusia yang ramai ini ke perkampungan syurga ini yang tidak pernah dijejaki oleh seorang manusiapun."




Lalu Jibrail menjawab: "Aku diperintahkan oleh Allah SWT, pentadbir seluruh alam untuk menghantar tetamu-tetamuNya dari orang-orang yang bernasib baik bagi menduduki Hadiratul Quddus"

Setelah mendengar kata-kata perintah dari Jibrail, maka malaikat yang mengawal pintu Syurga Khuldi itu dengan segera membuka pintunya dan membenarkan Jibrail dan ke semua tetamu Allah SWT tersebut menuju ke perkampungan syurga Hadiratul Quddus.

Malaikat Jibrail pun masuk ke dalam syurga itu lalu menaiki ke satu puncak mahligai yang tinggi lantas berkata: "Wahai Muhammad, masuklah tuan hamba bersama para nabi, para sahabat dan sekalian manusia yang menjadi calon penghuni syurga ke taman Hadiratul Quddus ini untuk menikmati segala kemewahan yang telah dijanjikan Allah SWT dahulu. Maka masuklah Rasulullah dan sekelian tetamu Allah SWT yang lain ke dalam taman itu lalu menaiki kenderaan khas yang disediakan.



Apabila mereka melalui jalan di dalam taman syurga itu, tiba-tiba berundurlah ke belakang dengan sendirinya segala pohon kayu kecil dan besar yang menghiasi taman itu untuk memberi hormat kepada rombongan tersebut. Sepanjang perjalanan mereka diperlihatkan permandangan taman yang indah lagi mengkagumkan, melalui bangunan serta mahligai yang diperbuat dari emas, perak, batu delima serta lain-lain. Pendek kata, Hadiratul Quddus memiliki mahligai yang bertaburan dalam suasana yang terlalu permai dan amat menyenangkan.

Pada pintu setiap mahligai tersebut sudahpun tertulis nama penghuni yang bakal memilikinya manakala di dalamnya menunggu dengan wajah kerinduan akan para bidadari yang amat jelita, menunggu dengan penuh sabar akan saat pertemuan yang sudah terlalu hampir akan kedatangan suami mereka yang bakal menjadi penghuni dan raja di dalam mahligai tersebut.



Setelah beberapa lama mengelilingi Hadiratul Quddus, malaikat Jibrail lalu membawa ke semua ahli syurga berkenaan berkumpul untuk menghadiri satu upacara perhimpunan agung. Allah SWT memerintahkan malaikat Jibrail untuk membentangkan satu hamparan permaidani, maka duduklah para tetamu Allah SWT itu berehat dengan penuh gembira dan selesa sekali. Seketika kemudian Allah SWT pun memerintah para malaikat: "Berikan makan kepada waliKu". Muncullah para pelayan membawa pelbagai hidangan istimewa. Semakin banyak dimakan, semakin terasa lazat rasanya. Setiap suap tidak sama rasanya. Mereka terus menikmati hidangan makanan dengan sepuas-puasnya. Setelah makan, Allah SWT memerintahkan: "Berikan minum pada hamba-hambaKu". Maka para tetamu Allah SWT tersebut diberi minuman yang rasa airnya bertambah lazat pada setiap teguk.



Setelah para tetamu Allah SWT tersebut menikmati jamuan di hari pertama mereka dikumpulkan beramai-ramai, Allah SWT pun memerintah malaikat Jibrail supaya manghadiahkan kepada mereka pakaian-pakaian syurga. Tubuh badan mereka disaluti dengan pelbagai perhiasan yang amat baik dan terlalu tinggi nilainya samada perhiasan cincin emas yang bertatah batu-batu delima atau berlian yang terlalu ajaib dan menakjubkan. Setiap cincin yang dipakai oleh tetamu Allah SWT itu tersurat kalimah-kalimah tertentu yang memuji kebesaran Allah SWT. Mereka juga dihiasi dengan mahkota syurga yang dihiasi dengan batu-batu permata yang bergemerlapan.



Allah SWT memerintahkan malaikat Jibrail menghantar pula bau-bauan harum untuk para tetamu yang tidak terbilang ramainya itu. Maka muncullah seekor burung yang sangat ajaib rupanya dan terlalu cantik pula warnanya terbang di dalam taman syurga yang permai itu, sambil mengembangkan sayapnya mengelilingi kepala mereka. Maka terpeciklah bau-bauan yang sangat harum hasil dari sayap-sayap burung ajaib tersebut lalu merenjis pada tubuh dan pakaian setiap tetamu Allah SWT yang hadir pada majlis itu. Maka bertambah harum dan bertambah nyamanlah suasana syurga pada masa itu. Alangkah tercengangnya para tetamu Allah SWT itu melihat dan mengalami kejadian ajaib yang ditunjukkan oleh Allah SWT itu, sebagai janji kesenangan dan kebahagian yang bakal dinikmati oleh manusia yang beriman di alam akhirat nanti.



Seketika kemudian secara tiba-tiba muncullah sebuah mimbar yang diperbuat daripada Nur. Malaikat Jibrail mara di tengah manusia yang ramai itu sambil membimbing tangan Nabi Musa AS naik ke atas mimbar tersebut untuk membaca kitab Taurat. Nabi Musa AS pun memperdengarkan bacaan Taurat dengan bacaan yang lembut dan jelas didengar oleh sekelian hadirin. Setelah itu, malaikat Jibrail menjemput pula nabi Isa AS naik ke atas mimbar untuk membaca kitab Injil seperti yang pernah diturunkan ke atas baginda oleh Allah SWT. Setelah nabi Isa AS memperdengarkan bacaannya, tibalah giliran nabi Daud AS pula untuk membaca kitab Zabur. Bagindapun memperdengarkan bacaan kitab Zabur dengan suara yang amat merdu hingga terpegunlah sekelian tetamu Allah SWT pada hari itu. Setelah itu, malaikat Jibrail menjemput Rasulullah SAW naik ke atas mimbar untuk memperdengarkan Al Quran. Rasulullah SAW pun membaca Al Quran dengan suara yang paling merdu dan tidak pernah didengar oleh sebarang manusia sebelum ini.



Setelah selesai pembacaan kitab-kitab suci yang pernah diturunkan oleh Allah SWT pada umat manusia, maka tiba-tiba terdengarlah satu suara paling merdu memenuhi ruang syurga yang terbentang luas itu. Suara itu merupakan firman dari Allah SWT sendiri yang pertama kali didengar oleh sekelian ahli syurga tersebut. "Akulah Tuhanmu telah menepati apa yang Aku janjikan kepadamu, dan kini kamu boleh meminta niscaya aku akan berikan permintaanmu". Jawab ahli syurga: "Kami minta ridhoMu. kami minta ridhoMu." dua tiga kali. Dijawab oleh Allah SWT: "Aku ridho kepadamu bahkan masih ada tambahan lagi daripadaKu, pada hari ini Aku muliakan kamu dengan penghormatan yang terbesar dari semua yang telah kamu terima."

Maka dibukakan hijab sehingga mereka dapat melihat dzat Allah SWT yang Maha Mulia sekehendak Allah SWT, maka segera mereka bersujud kepada Allah SWT sehingga Allah SWT menyuruh mereka: "Angkatlah kepalamu sebab kini bukan masa beribadat."



Maka disitu mereka lupa pada nikmat-nikmat yang sebelumnya dan terasa benar bahawa tidak ada nikmat lebih besar daripada melihat dzat Allah SWT yang Maha Mulia. Kemudian mereka kembali maka semerbak bau harum dari bawah Arasy dari bukit kasturi yang putih dan ditaburkan diatas kepala mereka, diatas ubun-ubun kuda mereka, maka apabila mereka kembali kepada isteri-isterinya terlihat bertambah indah lebih dari semula ketika mereka meninggalkan mereka sehingga isteri-isteri mereka berkata: "Kamu kini lebih elok dari yang biasa."

Rukun Hati



Dalam solat atau sembahyang itu ada berbagai jenis rukun. Ada rukun fi'li atau perbuatan. Ada rukun qauli atau lafaz dan bacaan. Ada rukun qalbi atau hati.

Rukun fi'li termasuklah qiam atau berdiri tegak, ruku, sujud, duduk antara 2 sujud da duduk tahiyyat akhir. Rukun qauli pula termasuklah melafazkan takbiratul ihram, bacaan surah Alfatihah, bacaan tahiyyat akhir dan salam. Rukun qalbi atau hati pula ialah niat.

Namun demikian, 'kerja' hati di dalam solat tidaklah terhenti setakat niat sahaja. Kerja hati dalam solat adalah banyak dan umunya lebih rumit dan lebih berat dari anggota kerja jawarih dan lidah. Termasuk kerja hati ialah tawadhuk, khusyuk dan khuduk walaupun ia tidak termasuk dalam rukun solat.



Tawadhuk ialah merendahkan diri, merendahkan hati atau merendahkan 'sayap' ke hadrat Allah Taala yang disembah. Merasakan diri kecil dan kerdil di hadapan Allah. Merasakan diri hamba yang sebenar-benarnya tanpa ada rasa 'tuan' di dalam hati. Supaya di dalam solat itu hanya ada 2 entiti. Satu ialah Tuhan yang disembah, dipuja dan diagungkan. Kedua ialah hamba yang hina-dina yang menyembah, yang memuja dan mengagungkan Tuhan dan bukan tuan, bukan raja, bukan sultan, bukan Tun, bukan Tan Sri dan sebagainya.

Khusyuk ialah rasa-rasa yang timbul di hati semasa solat. Orang yang khusyuk di dalam solat ialah orang yang mengalami dan merasakan berbagai-bagai rasa hasil dari penghayatan dan penjiwaan apa-apa yang dilafaz dan dibacanya. Rasa-rasa ini boleh jadi rasa-rasa bertuhan seperti merasakan bahawa Allah itu Maha Hebat, Maha Pemurah, Maha Pengampun, Maha Berkuasa, Maha Perkasa, Maha Mengetahui dan sebagainya atau rasa-rasa kehambaan seperti rasa bimbang, takut, cemas dan gerun terhadap Allah, bergantung harap, rasa cinta , rasa bersalah dan berdosa, rasa hina di sisis Allah dan sebagainya.



Khuduk pula ialah ketaatan dan penyerahan diri secara total kepada Allah. Merasakan bahawa dirinya adalah hak dan kepunyaan Allah dan terpulanglah kepada Allah untuk berbuat apa sahaja terhadap dirinya. Menyerahkan dirinya kepada Allah sepertimana bayi yang baru lahir menyerahkan dirinya kepada ibunya. Terpulanglah kepada ibunya sama ada akan memandikannya, membedungnya, menyusukannya ataupun tidak. Si bayi tidak ada apa-apa daya dan kuasa ke atas dirinya sendiri. Ataupun seperti mayat yang menyerahkan dirinya kepada pengurus mayat. Terpulanglah kepada pengurus mayat itu hendak berbuat apa sahaja kepada mayat tersebut. Si mayat tidak ada daya atau kuasa untuk membantah atau menghalang.

Rukun seperti rukun fi'li, qauli dan qalbi seperti niat, perlu dijaga kerana ia bersabit dengan sah atau batalnya solat. Namun begitu, kerja dan amalan-amalan hati yang lain di dalam solat seperti tawadhuk,
khusyuk dan khuduk ini sama pentingnya kerana tanpa amalan-amalan hati ini, solat kita terputus dari Allah walaupun pada zahirnya solat kita sah. Ada hadis yang bermaksud:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada gambaran lahir kamu tetapi Allah melihat kepada hati dan amalan-amalan kamu."



Solat tanpa amalan-amalan hati tidak akan dapat mendidik kita, tidak akan dapat membersihkan sifat-sifat mazmumah yang bersarang di hati kita, tidak akan dapat mengembalikan fitrah kita kepada keadaan asal semulajadinya yang suci murni, tidak akan dapat membangunkan insaniah kita dan tidak akan dapat mencegah dari yang keji dan yang mungkar.
Bagi mencapai khusyuk dalam solat selain dari hudhur qalbi dan hadir hati dalam setiap perbuataan dan ucapan dalam solat, maka tafahhum juga merupakan syarat penting bagi mencapai khusyuk itu. Setiap ucapan mestilah difahami segala ertinya, sekiranya tidak memahami setiap kalimah yang diucap pasti solatnya itu menjadi sia-sia. Tidak boleh diterima sama sekali jika ada seorang yang bercakap bersama orang lain dengan ucapan yang dia sendiri tidak faham, tentu dia gagal untuk menyatakan tujuan dari ucapannya itu dan tidak bermakna ia bercakap dengan orang lain.



Betapa pula jika solat yang disifatkan sebagai dialog atau percakapan penting antara seorang hamba dengan Khaliqnya, yang di dalamnya terdapat berbagai pujian dan sanjungan, permohonan serta harapan, tetapi dia sendiri tidak faham apa yang diucapkannya. Sudah pasti ia gagal dalam pelaksanaan solat tersebut. Syarat khusyuk seterusnya ialah "Ta'zim" atau merasa hebat dan gerun terhadap Allah SWT ketika solat. Apabila seseorang itu mendirikan solat dan ketika mengucapkan Allahu Akbar adakah hatinya merasa gerun dan hebat terhadap-Nya?

Rasa gerun itu hanya dapat dicapai dengan makrifat yang mendalam. Sejauh mana ia makrifat terhadap Allah SWT sebagai Khaliq Yang Maha Agung, dan sejauh mana pula ia makrifat atau mengenali dirinya sebagai hamba yang serba kekurangan dan mempunyai berbagai kelemahan. Jika seseorang mengenali Tuhan sepenuhnya dengan segala keagungan sifat yang dimiliki-Nya, serta mengenali siapakah dirinya di hadapan Allah Yang Maha Agung, maka pastilah ketika itu hatinya akan merasa gerun bila menyebut nama Allah dan sedang berdiri berhadapan dengan-Nya.



Sejauh mana pengenalan seseorang terhadap Allah yang mencipta alam dan mengaturnya dengan kecanggihan ilmu-Nya yang tiada tara, sehingga semua berjalan dengan teratur. Ia Maha Berkuasa Maha Bijaksana yang tidak terhingga. Kemudian ia membuat bandingan terhadap dirinya untuk mengetahui sejauh mana pula makrifat atau mengenali dirinya. Walaupun ia seorang raja atau ketua eksekutif sebuah kerajaan, namun pada hakikatnya ia hanyalah seorang hamba yang dikerah oleh Allah SWT ke muka bumi ini. Bukan atas kemahuannya manusia itu menghuni bumi sebaliknya ia diarah dan dikerah untuk berada di dataran bumi untuk suatu jangka masa yang ditetapkan oleh Allah sehingga menjelang qiamat.



Setuju atau tidak manusia pasti dikerah oleh Allah untuk suatu kebangkitan semula di Padang Mahsyar tanpa sebarang hak istimewa. Walaupun di dunia dia seorang raja atau perdana menteri yang memegang kekuasaan pemerintahan sebuah kerajaan, yang kerapkali menggunakan kuasanya mengadakan peraturan dan menguatkuasakan undang-undang yang diciptanya sendiri. Namun ketika itu dia adalah manusia yang terpaksa mengikut kerahan Allah, dibangkitkan tanpa seurat benang. Hasil dari dua makrifat itu barulah ia akan merasa gerun terhadap Allah SWT, sehingga apabila datangnya waktu solat ia akan terasa gementar dan gerun kerana ia akan berhadapan dengan Allah lagi melalui solat yang akan didirikan itu. Ia gerun kerana ia akan melafazkan sumpah setianya lagi, sedangkan sumpahnya yang dilafazkan dalam solat yang lalu masih tidak terlaksana.

Sesungguhnya gerunlah hati orang yang makrifat dengan mendalam terhadap Allah SWT, lebih-lebih lagi setelah mengenali dirinya dengan segala kelemahan yang memerlukan pertolongan dari Allah SWT.